Tuesday, 27 September 2016

Penoton TV Indonesia Rindu Tayangan Jaman Dulu

Tayangan Jaman Dulu


     Semakin banyaknya stasiun televisi membuat penonton TV memiliki banyak pilihan dalam menikmati hiburan yang di sediakan oleh pihak TV, dengan persaingan yang semakin banyak membuat pihak stasiun televisi saling berlomba untuk mendapatkan penonton yang paling banyak sekaligus mendatangkan pihak pengiklan yang akan menjadi pemasukan pertama stasiun TV itu sendiri.
     Bukannya membaik, pihak stasiun televisi justru banyak yang melenceng dari tujuan awal yang sekarang memberikan tontonan yang sangat tidak mendidik bahkan pihak KPI seakan tidak berkutik dalam menghadapi "kenakalan" stasiun TV, KPI memang memberikan surat peringatan tapi berkali-kali juga tidak mempan dan akhirnya tayangan yang di beri peringatan tetap tampil bahkan semakin menjadi-jadi kenakalan yang di lakukan. Saat ini sudah bisa di bilang penonton Indonesia sudah mulai cerdas dalam memilih tayangan yang memberikan dampak positif bahkan lebih banyak lagi yang lebih memilih tidak menonton televisi lagi, pihak televisipun menyiasati orang-orang yang mulai meninggalkan televisi untuk kembali lagi menonton televisi dengan cara memberikan tontonan jadul alias tayangan yang rata-rata ada di rentang tahun 2000-2009 mulai dari Tuyul dan Mbak Yul, Jini Oh Jini yang dulu sangat sukses memberikan tontonan yang di cintai oleh orang banyak sekarang di tayangkan kembali dan mendapat respon yang sangat bagus, mengembalikan orang-orang yang sudah malas untuk menonton televisi yang rata-rata berumur di atas 18 tahun kembali mengenang masa-masa kecil yang di penuhi tontonan yang menarik dan susah di lupakan sampai saat ini.
      Pihak televisipun mempergunakan kesempatan ini untuk membuat penonton lebih lama lagi berada di depan televisi dengan cara me"remake" judul-judul sinetron maupun film dengan pemain baru, suasa baru dengan embel-embel REBORN, sudah ada beberapa judul yang sudah akan bahkan sudah sukses di pasaran salah satunya WARKOP DKI REBORN PART 1 yang menjadi film Indonesia tersukses sepanjang masa dengan lebih dari 4 juta penonton dalam kurun waktu yang sangat singkat, itu mengindikasikan banyak penonton yang sangat rindu dengan cerita-cerita jaman dulu yang penuh edukasi yang menghibur tanpa adanya kata-kata kotor, kontak fisik yang terasa menghina.
     Salah satu yang akan di "REBORN" oleh salah satu stasiun TV swasta adalah Tuyul dan Mbak Yul, apakah bisa sesuai minat pemirsa TV atau setidaknya bisa lebih berbobot dengan sinetron-sinetron yang ada saat ini.

Monday, 26 September 2016

Sandiaga Uno yang Menjadi Awal Perpecahan Koalisi Kekeluargaan

Sandiaga Uno yang Menjadi Awal Perpecahan Koalisi Kekeluargaan


    Koalisi kekeluargaan adalah sebuah koalisi yang di bangun demi mengalahkan Gubernur Petahana Basuki Tjahaja Purnama, koalisi kekeluargaan ini awalnya beranggotakan 7 partai yaitu PDIP, Demokrat, PKB, PAN, PPP, Gerindra dan PKS. Ketika PDIP sudah pasti menngusung Petahana sebagai calonnya di Pilkada DKI Jakarta 2017, awal perpecahan pun mulai muncul.
Ketika Sandiaga Uno memilih Mardani Ali Sera sebagai wakilnya sudah banyak isu yang muncul bahwa koalisi Kekeluargaan akan pecah, koalisi kekeluargaan sendiri sepertinya di bentuk atas dasar kebencian kepada sosok Ahok yang di nilai tidak pro terhadap rakyat kecil dan tidak sopan dalam berkomunikasi dan seakan koalisi ini memiliki satu tujuan yaitu "asal bukan Ahok" dan akhirnya koalisi kekeluargaan tidak memiliki pasangan calon yang tetap dan sangat sering berubah-ubah.
Puncaknya ketika koalisi antar Partai Demokrat, PKB, PAN dan PPP mengusung pasangan calonnya sendiri yaitu Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni di Puri Cikeas mengakhiri tanda tanya apakah Sandiaga Uno bisa satu lawan satu dengan Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI 2017, banyak sumber mengatakan perpecahan koalisi kekeluargaan berawal dari Sandiaga Uno yang tidak ingin menjadi Wakil Gubernur atau orang ke-2 di pemerintahan Jakarta, dan akhirnya memilih wakilnya sendiri yaitu kader dari partai PKS dan akhirnya tidak setujui oleh koalisi Cikeas yang menentukan pasangan calonnya sendiri walau hanya bermodalkan 27 kursi DPRD dan itupun sudah sangat cukup untuk maju sebagai Gubernur.
    Sandiaga Uno sendiri sudah sangat percaya diri bahwa dirinya akan di usung oleh sebagian besar koalisi kekeluargaan tapi kenyataan berubah seketika yang di saat ini hanya di dukung oleh 2 partai saja yaitu Gerindra dan PKS. Sungguh sangat memilukan ketika kepercayaan diri yang sudah sangat tinggi berbalas ketidakpercayaan partai koalisi kekeluargaan terhadap Sandiaga Uno sebagai ujung tombak untuk mengalahkan petahana, walau memiliki wajah yang santun dan gaya berkomunikasi yang memanjakan telinga yang mendengar, pengalaman adalah salah satu hal utama yang di jadikan patokan Kepala Daerah yang patut di ajukan ke Pilkada karena dengan hanya bermodalkan wajah "santun" apalagi berdasarkan agama (maaf tidak bermaksud sara) sulit bisa di pilih sebagai Gubernur apalagi di daerah yang heterogen seperti Jakarta.

Saturday, 24 September 2016

Mengorbankan Pangkat di TNI Demi Melanjutkan Karir Politik Keluarga Cikeas

Karir Politik Keluarga Cikeas


        Di pilihnya Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada 2017 ini membuat banyak perkiraan ahli melenceng jauh dari nama-nama yang di isukan akan di ajukan oleh koalisi partai Demokrat, PAN, PKB dan PPP. Banyak nama lain yang di isukan akan di ajukan oleh koalisi partai ini seperti Yuzril Ihza Mahendra yang sudah sangat santer terdengar akibat dari kedekatannya dengan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pernah menjadi Menteri juga di era kepemimpinannya atau Anies Baswedan yang memiliki elektabilitas yang cukup baik akhir-akhir ini setelah di "pecat" sebagai Mentri Pendidikan oleh Presiden Jokowidodo, tapi kabar mengejutkan datang bukan nama Yuzril yang di sebut, malah Agus Yudhoyono yang di pilih sebagai calon Gubernur dari koalisi Partai ini.
        Tentu sangat melenceng jauh dari perkiraan ahli yang sering muncul di televisi dengan memastikan nama Yuzril yang akan di pilih atau akan bersatu dengan koalisi kekeluargaan dan mengajukan nama Anies Baswedan yang di pasangkan dengan Sandiaga Uno yang di gadang-gadang sanggup menjatuhkan petahana, nama Agus Yudhoyono ini bisa di bilang sangat baru di dunia Politik Indonesia karena lebih dulu di kenal sebagai anak pertama mantan Presiden SBY yang juga seorang Mayor TNI di umurnya yang masih bisa di bilang muda, memiliki jenjang karir yang bagus di TNI dan juga lulusan dari Harvard Unieversity tentu memberikan cerminan seorang yang sempurna tapi ketika karir dan jabatan tersebut di pertaruhkan demi masuk ke dunia politik bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sangat "konyol". Tapi pasti ada perencanaan matang kedepannya dari keluarga Cikeas ini, ketika mengorbankan jenjang karir yang mulus di TNI dan maju sebagai calon Gubernur yang tidak tanggung-tanggung langsung di DKI Jakarta, yang jika di tarik garis lurus sekaligus dengan perkiraan yang pendek saya sendiri, ketika Partai Demokrat yang saat ini tidak memiliki sosok yang mampu menandingi Jokowidodo di Pemilu 2019 nanti (jika di calonkan kembali) mulai mencari sosok yang pas, berjiwa muda, memiliki sifat patriot yang tinggi sekaligus wajah yang "santun". Di sinilah tinta emas sejarah kepemimpinan seorang Agus Yudhoyono di mulai dengan menimbang-nimbang saat ini walau belum bisa mengalahkan Ahok, tapi kedepannya bukan tidak mungkin di Indonesia bahkan di Dunia akan terjadi duet bersaudara di pemilihan Presiden 2019 dimana Agus Yudhoyono akan di sandingkan dengan adiknya yaitu Edhie Baskoro Yudhoyono yang sudah terjun lebih dahulu ke dunia politik dengan menjadi anggota DPR RI.
        Walau bapak SBY di tahun 2019 nanti bisa kembali mencalonkan diri sebagai Capres, meliht kinerja Presiden saat ini yaitu bapak Jokowidodo terasa sulit untuk menggeser dari pucuk kepemimpinan Indonesia. SBY pun akan memajukan anak-anaknya sebagai Capres maupun Cawapres di Pemilu 2019 nanti sehingga di mulai dari sekarang Agus Yudhoyono sudah mulai di perkenalkan ke publik melalui Pilkada DKI 2017. Sekian informasi sekaligus "penerawangan" saya dari terpilihnya Agus Yudhoyono sebagai calon Gubernur DKI Jakarta 2017

Friday, 23 September 2016

Apakah Ahok Akan Melaju Dengan Mudah ke DKI 1 ?


Apakah Ahok Akan Melaju Dengan Mudah ke DKI 1



    Kembali membahas masalah politik khususnya pertarungan politik yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. setelah sang petahana Basuki Cahya Purnama di sandingkan kembali dengan wakilnya sekarang Djarot Saiful Hidayat Seakan memberikan bukti bahwa partai lain harus mencari calon pesaing yang bisa mengalahkan sang petahana yang sudah terbukti kerja nyata dan memiliki kinerja yang bisa di rasakan langsung oleh masyarakat Jakarta. Partai pengusung lawan Ahok pun mulai mencari mana lawan yang bisa setidaknya mengusik suara pemilih Ahok sampai bisa Pilkada 2017 di laksanakan 2 putaran sehingga partai lawan Ahok bisa memiliki waktu lebih panjang sekaligus menimbang kembali mana calon pasangan yang berpotensi mengalahkan Ahok di putaran ke-2.
    Beberapa nama muncul silih berganti dan sekejap hilang di beritakan oleh media dan akhirnya memunculkan 2 pasang calon yang akan bertarung melawan Ahok di Pilkada DKI 2017. Jika di lihat di berbagai survei, banyak pasangan yang di cocok-cocokan oleh media yang setidaknya bisa menyaingi Ahok dan tentunya berharap bisa mengalahkan Ahok, partai mulai mencari sosok yang di kenal masyarakat dan memiliki perilaku yang lebih sopan dari Ahok dan mencerminkan sosok pemimpin yang mengayomi dan memiliki gaya komunikasi yang baik sehingga membuat seakan-akan sifat Ahok sangat buruk dan terlihat sudah tidak pantas lagi menjadi pemimpin di Jakarta yang notabene adalah Ibu Kota Indonesia.
    Jika hanya bermodalkan perawakan yang santun tanpa ada pengalaman dalam memanajemen sebuah pemerintahan apalagi pemerintahan yang super komplex seperti Jakarta 
mungkin menjadi hal yang sedikit sulit dan butuh waktu yang lama lagi untuk menyesuaikan diri yang sudah pasti merugikan warga DKI Jakarta sendiri yang harus 
menunggu lagi pemimpin yang di pilih menyesuaikan diri dengan apa yang sudah di bangun oleh pemimpin yang terdahulu yaitu Ahok. Di daerah saya sendiri juga akan 
di adakan Pilkada di 2017 nanti, jujur saya tidak terlalu mengenal siapa saja yang akan maju menjadi Gubernur karena tidak di "blowup" oleh media. jadi sebaiknya media baik itu maupun nasional maupun lokal di masing-masing daerah yang akan melaksanakan Pilkada lebih gencar lagi melakukan sosialisasi tentang bakal calon yang akan maju di daerahnya masing-masing agar nantinya setiap daerah mendapat pemimpin yang tepat dan sesuai dengan kehendak. Sekian sedikit Informasi yang bisa saya berikan, semoga media-media yang akan menjadikan Pilkada sebagai topik utama di setiap tayangannya bisa lebih memberikan sosialisasi yang lebih tepat ke setip penonton. Terimakasi

Wednesday, 21 September 2016

Youtube Lebih Baik Dari TV ?


Memilih Youtube atau TV


       Ketika sebuah pergeseran jaman yang membuat sebuah budaya ikut berubah, itulah yang terjadi saat ini ketika banyak orang yang bosan menonton Telivisi mulai beralih menonton Youtube bahkan menjadikan Youtube pilihan utama sebagai hiburanya setiap hari, semenjak banyaknya Youtubers Indonesia yang menjadi terkenal dan mempunyai banyak fans terutama kaum muda, hal ini menjadi dampak yang membuat pergeseran budaya ini apalagi dengan semakin mudahnya akses internet sehingga menonton Youtube bisa darimana saja dan hanya bermodalkan sebuah smartphone. Kemunduran kualitas tayangan televisi juga menjadi indikator perubahan budaya ini.
Banyaknya acara yang tidak jelas dan hanya mementingkan rating dan mengorbankan kualitas yang seharusnya di berikan ke penonton, penayangan hal-hal yang politik yang terlalu berlebihan, tidak adanya kejelasan hukum yang membuat sebuah patokan bagi pihak televisi jika melakukan pelanggaran sehingga sering kali pihak televisi yang melakukan pelanggaran hanya mendapatkan teguran dan teguran lagi tanpa adanya sanksi yang membuat jera bagi televisi agar tidak mengulangi membuat acara yang tidak berbobot. Lain halnya dengan Youtube, konten-kontenya sudah di saring sesuai umur (walau tetap bisa di kelabuhi) dan Creator atau Youtubers bisa berekspresi secara bebas dan bisa di lakukan dengan gratis, apalagi dengan adanya kerjasama yang saling menguntungkan antar Youtubers dengan pihak Youtube sendiri, kerjasama dalam bidang periklanan ini bisa menjadi salah satu faktor penting yang membuat banyak orang lebih menyukai Youtube dari pada sekedar menonton acara yang tidak jelas di Televisi.
Saat inipun beberapa stasiun televisi mulai berbenah dengan menghadirkan konten-konten yang menarik dan tentunya mendidik bagi penonton, Youtube tentu tidak hanya memiliki dampak positif, dampak negatifnya sendiri saat ini sudah terlalu banyaknya Creator yang seharusnya memberikan "hiburan" yang baik malah memberikan konten yang kurang bermutu tapi proses penyaringan yang di miliki oleh Youtube kurang bagus untuk memblokir Creator yang seperti ini, seperti ini maksud saya adalah : konten game.. yaaa memang si Creator bermain game tapi mengeluarkan kata-kata yang tidak patut di contoh oleh remaja apalagi anak-anak, konten yang memamerkan harta dan kekayaan... yaaa memang bagus sih kalau tujuannya untuk memotivasi penonton nahh ini malah memberikan kesan pamer yang berlebihan dan akhirnya viewernya pun akan mengikuti gaya hidup yang di tonton dengan cara maksa... yaa mintalahh ke orang tua.. bahkan berbuat kejahatan hanya demi mengikuti trend yang di berikan oleh Creator Youtube tersebut (ini sih kebanyakan para biji cabe yang kebelet gaul..hehhe) yaah pamer ini juga ada sih kalok nonton di Televisi tapi yaa kemabli ke orangnya masing-masing memang memilih Youtube atau Televisi bahkan memilih kedua-duanya hanya tinggal bagaimana kita memilih konten yang kita tonton bermanfaat dalam hal yang positif.

Tuesday, 20 September 2016

Peran Media di Pilkada DKI Jakarta 2017


Media di Pilkada DKI 2017


      Semakin panasnya persaingan calon Gubernur yang akan bertarung pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta yang berlangsung di tahun 2017, membuat banyak penduduk Indonesia tersedot perhatiannya, padahal banyak daerah lain juga yang akan melangsungkan pemilihan kepala daerah, tapi kenapa hanya DKI Jakarta saja yang seakan menjadi panggung utama ? yaa selain sudah pasti Jakarta adalah Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta mungkin di jadikan cerminan bagaimana suara partai politik di seluruh Indonesia karena penduduk Jakarta sendiri berasal dari berbagai suku, ras dan agama sehingga menjadikannya lebih kompleks di bandingkan daerah lain yang biasanya bahkan sudah pasti memilih anak asli daerah sebagai pemimpinnya, lain halnya dengan Jakarta yang sudah di buktikan dengan hadirnya Jokowidodo yang berawal dari Solo naik ke Jakarta dan sampai di kursi kepemimpinan tertinggi Indonesia yaitu Presiden.
Melihat dari mulusnya perjalanan bapak Jokowi ke kursi Presiden membuat banyak orang ingin mengikuti langkahnya selain memang sifat dan gaya kepemimpannya yang mendobrak "budaya" para elit politik di Indonesia sehingga membuat kepincut hati sebagian besar rakyat Indonesia(selisih sedikit dengan pesaingnya sihh..hehe). Kembali ke topik awal yaitu peran media di Pilkada DKI Jakarta 2017, suasana yang hampir sama juga terjadi ketika pemilihan presiden tahun 2014 dimana media baik itu cetak maupun elektronik berperan penting selain memberikan informasi juga di jadikan kendaraan untuk menggiring opini publik agar memilih salah satu pasangan calon, kemungkinan akan terjadi lagi di Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, selain akibat beberapa pemimpin partai pendukung pasangan calon Gubernur menjadi pemilik media-media besar yang di kenal masyarakat, juga media ini akan memberikan dampak yang sangat besar ke psikologi pemilih nantinya ketika menentukan bakal calon yang di pilih, kenapa saya pilih peran ke psikologi ? karena dari fakta di lapangan sendiri kita semua tau mana ada sih jaman sekarang pejabat negara yang benar-benar mau mementingkan rakyatnya kecuali saat kampanye dengan janji manisnya, nahh di sinilah media berperan mempercantik informasi bakal calon yang di pihaknya agar terlihat manis dan sempurna bahkan sampai menjatuhkan bakal calon saingannya. Sudah terbukti di pemilihan Presiden 2014 lalu dimana 2 media telivisi saling mengklaim kemenangan dalam Pemilu dan memberikan opini yang menyerang lawan, sangat tidak baik memang jika sudah seperti itu tapi lucunya rakyat malah meluapkan kesenangannya yang di provokasi media dengan cara ikut saling hujat dan akhirnya membuat perpecahan di bangsa ini walau sekarang sudah mulai menurun tensinya. Di Pilkada DKI Jakarta ini kemungkinan akan di pakai media sebagai bahan mencari keuntungn baik itu secara finansial maupun sosialnya sendiri, dimana banyak isu-isu yang akan di lempar ke masyarakat yang membuat perdebatan dan akhirnya membuat perpecahan di kalangan tertentu yang sepertinya saat ini sudah mulai terjadi apalagi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 ini salah satu bakal calonya Pak Basuki Cahya Purnama adalah seorang keturunan Tionghoa yang menjadi kaum minoritas secara umum di Indonesia dan lawan saingnya adalah kaum beragam Islam yang secara langsung akan di pakai untuk saling menjatuhkan dan kita semua tau itu adalah cara kuno yang sangat tidak etis untuk di pakai berkompetisi di jaman modern seperti saat ini.
Masyarakat yang modern sudah mengenal baik teknologi informasi pasti sudah sangat bisa memilih mana calon pemimpin yang benar dan tepat.. tohhh mereka yang mayoritas belum tentu berkompeten dalam memimpin apalagi jika belum memiliki pengalaman dan hanya bermodal wajah santun...hehehe.. walau saya sendiri bukan warga Jakarta tapi cukup senang mengikuti update berita tentang Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, berkembangnya pola pikir masyarakat modern yang di barengi logika yang matang akankah mengalahkan bagaimana orang-orang yang berlindung di balik nama besar agamanya. cukup menarik untuk di nanti, sekian sedikit informasi (lebih ke curhat sih) dari saya, semoga memberikan sedikit pencerahan (emang lampu..) bagi Anda yang membaca. Terimakasih.

Monday, 19 September 2016

Sejauh Apa Anda Tau Tentang Papua Guinea ?

Informasi tentang Papua Guinea


     Papua Guinea adalah negara tetangga kita Indonesia, yang berbatasan darat langsung dengan provinsi Papua di sebelah barat. Saya sendiri tidak terlalu sering mendengar nama negara ini apalagi mencari lebih dalam bagaimana informasi lebih dalam tentang Papua Guinea ini, maka dari itu saya ingin sedikit berbagi informasi tentang apa-apa saja yang menarik dari negara tetangga kita ini.
Papua Guinea adalah negara paling beraneka ragam terutama dalam segi bahasa daerahnya, Papua Guinea memiliki lebih dari 850 bahasa lokal asli yang berbanding lurus dengan jumlah suku yang ada. Dengan populasi penduduk yang hanya 6 juta jiwa, itupun tersebar di pedesaan kecil yang berada berjauhan sehingga hanya ada sekitar 18% yang menetap di pusat-pusat kota bahkan banyak ahli yang percaya di pedalaman Papua Guinea masih banyak spesies tumbuhan dan binatang yang belum pernah di temui sebelumnya akibat kurang di lakukannya eksplorasi.
Hingga saat ini sebagian besar penduduk menetap dalam sistem masyarakat tradisional yang mengandalkan alam sebagai bahan pokok kehidupannya bahkan Perwakilan Rakyat (DPRnya Papua Guinea) membuat sebuah undang-undang yang mengatur tanah tradisional pribumi memiliki landasan hukum yang melindungi dari campur tangan kaum pendatang (mestinya Indonesia punya ini...). Karena Papua Guinea ini memiliki kontur geografi yang sangat bergelombang, Pegunungan yang memanjang membentuk daerah dataran tinggi yang padat penduduk sehingga pemerintahnya sangat sulit membangun infrastruktur yang memadai sehingga mengandalkan pesawat terbang untuk akses transportasi utama di beberapa daerahnya.
Papua Guinea sudah di jajah oleh tiga negara dari tahun 1884 dan baru merdeka pada tahun 1975 setelah di jajah terakhir oleh Australia, kini Papua Guinea masih menjadi negara persemakmuran sehingga membuat sebagian besar rakyatnya hidup di bawah garis kemisikinan yang cukup buruk, bahkan sepertiga penduduknya hidup dengan penghasilan kurang dari 1.25 US dolar perhari.
Tingkat kelahiran di Papua Guinea bisa di bilang cukup tinggi, dari persentasi yang pernah saya baca setiap wanita di Papua Guinea seumur hidupnya bisa melahirkan 3.24 bayi (lahir kok bisa angka komanya.... mweheheh) tapi tingkat kematian bayi di sanapun sangat tinggi bila di bandingkan dengan Singapura (yaiyaalaah begoo!!) persentasenya mencapai 230 perseribu bayi meninggal sebelum menginjak umur anak-anak. Ok cukup dengan sok pintar dengan embel-embel persentase yang rumit (tapi persentase itu saya ambil dari sumber yang valid kok...hehhe).
Produk yang di hasilkan dari Papua Guinea ini masih di dominasi oleh hasil-hasil pertanian seperti kopi, coklat, copra, kelapa sawit, teh, gula, kentang manis, buah-buahan, sayuran , vanilla dll. Dari segi pendidikan, CIA (intelijennya Amerika itulooohh) belum memiliki data terkait bagaimana kualitas pendidikan yang di miliki Papua Guinea, hal ini menandakan pemerintah setempat belum memberikan perhatian serius terhadap bidang pendidikan dan sulit di data akibat keterbatasan teknologi informasi. Angka harapan hidup (bukan harapan palsu) di Papua Guinea berkisar di angka 68 tahun jika di bandingkan dengan Indonesia yang sudah 72 tahun(yaeelah dikit selisihnya, itu berarti Indonesia masih...... ahsudahlahh), selanjutnya dari segi kemandirian masyarakatnya, kali ini Papua Guinea menang dari Indonesia, tingkat kemandirian rakyatnya jauh lebih baik di bandingkan Indonesia karena sebagian besar penduduk Papua Guinea berusaha sendiri dengan pertaniannya. Kalau di Indonesia?? kebanyakan "drama" pemerintahanya apalagi di tambah kaum alay yang tumbuh subur tapi sebagai warga negara Indonesia masih patut untuk bersyukur di beri kesempatan untuk hidup di negara yang Indah, sumber daya alam yang melimpah  dan penuh dengan kebudayaan yang berbeda-beda (ini lebayy..).. ok sekian sedikit informasi beserta sindiran saya (informasi Papua Guinea dan sindiran untuk Indonesia), semoga bisa menambah sedikit pengetahuan Anda Terimakasih.